NetzID.com – Di Desa Tutuyan III, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, lahirlah sebuah gerakan kecil yang diam-diam bisa menginspirasi banyak desa lain di Sulawesi Utara. Namanya Koperasi Desa Merah Putih Desa Tutuyan III, koperasi yang kini sedang naik daun berkat salah satu unit usaha paling tak lazim di antara yang lain: pengelolaan sampah rumah tangga.
Bukan sekadar urusan sampah biasa. Unit usaha ini dirancang bukan hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan, tapi juga sebagai sumber modal mandiri bagi koperasi. Sementara koperasi desa lain di Boltim sibuk membangun usaha di bidang kelautan, pertanian, atau perdagangan, Koperasi Desa Merah Putih Desa Tutuyan III memutar otak memanfaatkan potensi yang sering dianggap remeh: tumpukan sampah rumah tangga.
Gagasan ini lahir di tengah dorongan besar dari pemerintah pusat. Tak tanggung-tanggung, Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 ― salah satu kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto mendorong pembentukan koperasi desa sebagai soko guru ekonomi rakyat. Di Tutuyan III, gagasan ini disambut cepat. Pengurus sudah terbentuk, legalitas badan hukum sedang dalam proses ke notaris, dan blueprint pengelolaan sampah sebagai unit usaha sudah mulai disosialisasikan dan akan runing pada bulan Juni 2025.

Bagaimana cara kerjanya? Sampah rumah tangga di desa tutuyan III, akan di angkut oleh Karyawan Koperasi Desa Merah Putih Desa Tutuyan III, yang akan dipungut biaya retribusi setiap bulannya selanjutnya Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah, dikemas ulang, dan dijual sebagai bahan daur ulang. Pendapatan dari retribusi sampah, kompos maupun hasil penjualan sampah daur ulang masuk langsung sebagai modal koperasi, dan memperkuat setiap unit usaha Koperasi.
Yang menarik, inisiatif ini bukan hanya soal uang. Ada semangat membangun kesadaran bersama, menanamkan nilai gotong royong, serta mengubah cara pandang masyarakat tentang sampah. Di tangan pengurus koperasi Desa Merah Putih Desa Tutuyan III, sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang.
Kalau berhasil, langkah mereka bisa menjadi model bagi desa-desa lain. Apalagi, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dikenal sebagai daerah pesisir yang kerap bermasalah dengan pengelolaan sampah. Artinya, ada pasar ide yang siap digarap lebih luas.
Kini tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pengelolaan sampah ini berkelanjutan. Perlu pelatihan, manajemen yang transparan, dan tentu saja partisipasi aktif dari anggota koperasi merah putih dan masyarakat Desa Tutuyan III. Tapi, kalau langkah ini berhasil, bukan mustahil Desa Tutuyan III akan dikenal bukan hanya sebagai desa kecil di utara Sulawesi, tetapi sebagai pionir pengubah sampah jadi aset berharga.
Sebagai eksperimen sosial-ekonomi, Koperasi Desa Merah Putih Desa Tutuyan III layak mendapat perhatian lebih. Tidak berlebihan kalau kita bilang: di desa ini, masa depan Ekonomi Hijau Indonesia sedang diuji.
Penulis: (R) | Editor: Redaksi












