Boltim, NetzID.com – Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Oskar Manoppo menghadiri Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) Tahun 2026 yang digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati Boltim, Selasa (6/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di daerah.
Sekolah Lapang tersebut mempertemukan unsur pemerintah daerah, BMKG, Forkopimda dan sejumlah pihak terkait untuk meningkatkan pemahaman mengenai risiko gempa bumi serta potensi tsunami.
Bagi Bupati Oskar, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau petugas kebencanaan. Pengetahuan dasar mengenai bencana perlu dimiliki masyarakat agar setiap warga mampu mengambil keputusan yang tepat ketika kondisi darurat terjadi.
Dalam sambutannya, Bupati Oskar Manoppo mengingatkan masyarakat untuk mengenali potensi ancaman yang berada di lingkungan masing-masing. Pengetahuan tersebut, kata dia, harus diikuti dengan pemahaman mengenai tanda-tanda bahaya, jalur evakuasi hingga lokasi yang dinilai aman.
“Kita perlu memahami potensi ancaman di lingkungan masing-masing, mengenali tanda-tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi, menentukan tempat yang aman, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” kata Oskar.
Menurutnya, kepanikan dapat diminimalkan apabila masyarakat telah memiliki pengetahuan dan kesiapan sebelum bencana terjadi. Karena itu, edukasi kebencanaan dinilai penting untuk membangun respons masyarakat yang lebih cepat dan terarah.
“Kita ingin setiap warga memiliki kesiapan ketika menghadapi keadaan darurat. Ketika gempa terjadi, masyarakat harus mengetahui langkah yang tepat untuk melindungi diri,” ujarnya.
Bupati berharap pelaksanaan SLG tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut perlu diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat, terutama mengenai mitigasi serta langkah penyelamatan ketika bencana terjadi.
Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, aparat keamanan dan unsur terkait lainnya dalam menghadapi risiko bencana di Boltim.
Kehadiran BMKG menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Sejumlah pejabat BMKG mengikuti kegiatan, termasuk Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc. yang hadir secara daring.
Turut hadir Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Dr. Teguh Rahayu, S.Kom., M.M., Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc., serta Kepala Biro Perencanaan BMKG Haryo Seno Pranandito, S.T.
Selain itu, hadir pula Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I sampai dengan V, Sekretaris Daerah Boltim M. Iksan Pangalima, S.Pi., MAP., unsur Forkopimda atau yang mewakili, serta jajaran BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Manado.
Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami 2026, Pemkab Boltim mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih sadar risiko, tidak mudah panik, serta mampu mengambil langkah penyelamatan secara tepat ketika menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan tersebut diharapkan menjadi bagian dari budaya masyarakat Boltim, sehingga upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. (*Red)












