Boltim, NetzID.com – Ada kalimat Rahman Salehe yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam ketika 53 warga Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mendapat kesempatan berangkat menunaikan ibadah umroh.
Rahman Salehe, tidak memilih menempatkan dirinya sebagai pusat dari perjalanan tersebut.
Ia tidak berkata, “Saya yang memberangkatkan 53 imam masjid se-Boltim untuk umroh.”
Justru sebaliknya. Rahman memilih mengingat tangan-tangan lain yang menurutnya menjadi bagian dari perjalanan rezeki tersebut.
“Ini rezeki yang Allah titipkan melalui tangan para penambang tradisional di Kotabunan dan diteruskan kepada saya,” kata Rahman.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya ada penghormatan kepada orang-orang yang selama ini bekerja jauh dari sorotan.
Para penambang tradisional di Kotabunan.
Mereka yang setiap hari berhadapan dengan tanah, batu, debu dan panas. Mereka yang mengandalkan tenaga dan ketekunan untuk mencari penghidupan. Dari pekerjaan keras itulah, menurut Rahman, ada rezeki yang kemudian dipercayakan kepadanya untuk diteruskan kepada masyarakat.
Karena itu, ketika puluhan warga diberangkatkan menuju Tanah Suci, Rahman tidak ingin seluruh kebaikan itu berhenti pada namanya.
Ia justru mengembalikannya kepada sumber rezeki yang ia yakini berasal dari Allah SWT.
Sikap tersebut menghadirkan pelajaran sederhana tentang bagaimana seseorang memandang rezeki.
Kadang, yang membuat seseorang mulia bukan karena seberapa banyak yang dimilikinya. Bukan pula karena seberapa besar namanya dikenal.
Tetapi karena ia masih mampu mengingat dari mana rezeki itu datang.
Rezeki, pada akhirnya, adalah titipan.
Hari ini Allah mungkin menitipkannya melalui tangan kita. Besok, bisa jadi Allah menitipkannya melalui tangan orang lain.
Karena itu, tidak ada alasan untuk merendahkan pekerjaan orang lain hanya karena bentuk pekerjaannya berbeda dengan kita.
Termasuk para penambang tradisional.
Di balik tanah yang mereka gali, batu yang mereka pecahkan, debu yang mereka hirup dan keringat yang mereka keluarkan, ada perjuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bisa jadi, dari keringat tangan-tangan itulah Allah sedang mengirimkan rezeki kepada orang lain.
Pesan Rahman juga menjadi pengingat bahwa berbagi tidak selalu harus dimaknai sebagai tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Ada rantai panjang yang sering tidak terlihat di balik sebuah kebaikan.
Ada orang yang bekerja.
Ada orang yang mendapatkan rezeki.
Ada orang yang kemudian meneruskannya kepada orang lain.
Dan pada akhirnya, semua kembali kepada satu keyakinan: manusia hanya menjadi perantara dari rezeki yang telah ditentukan Allah.
Dalam konteks itulah keberangkatan 53 warga Boltim untuk menunaikan ibadah umroh memiliki cerita yang lebih luas.
Bukan hanya tentang perjalanan menuju Tanah Suci.
Bukan hanya tentang siapa yang memfasilitasi keberangkatan.
Tetapi juga tentang bagaimana sebuah rezeki dipandang sebagai amanah yang harus diteruskan dan bagaimana orang-orang yang berada di balik datangnya rezeki tersebut tetap diingat.
Para jemaah kini membawa doa menuju Tanah Suci. Di saat yang sama, ada doa dan harapan yang juga layak ditujukan kepada mereka yang bekerja di tanah Boltim.
Kepada para penambang tradisional yang setiap hari berjuang dengan cara mereka sendiri.
Sebab terkadang, tangan yang paling sederhana justru menjadi jalan datangnya rezeki yang luar biasa.
Belajar dari Rahman Salehe: bukan “saya”, melainkan “ini rezeki yang Allah titipkan lewat penambang tradisional di Kotabunan.” (***)












