Boltim, NetzID.com | 16 Juli 2025, Dari balik wajan panas di dapur ayam goreng hingga ke meja rapat DPRD, nama Rahman Salehe tak sekadar dikenal, ia dihidupi oleh jalan panjang yang membentuknya. Kini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Anggota Komisi 3, sekaligus Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Bukan sebuah posisi yang datang dari kemewahan, melainkan dari keringat, abu dapur, dan debu tambang.
Dulu, Rahman adalah seorang kasir di restoran cepat saji di luar daerah. Ia meracik pesanan sambil meracik impian. Tapi tanah kelahiran memanggilnya pulang.
Ia kembali ke kampung, bukan dengan modal besar atau koneksi politik, melainkan dengan semangat menyala untuk membangun dari titik nol.
“Saya ingin hidup bermanfaat, bukan hanya bertahan,” ujar Rahman Salehe dalam sebuah wawancara usai sidang paripurna, April lalu. “Dulu saya hanya berpikir bagaimana bisa hidup esok hari. Sekarang, saya berpikir bagaimana orang lain bisa hidup lebih baik.”
Ia memulai usaha tambang emas tradisional di perbukitan Boltim.
Di sela-sela penyaringan batu dan pasir, ia mendengar keluh warga, menyaksikan ketimpangan, dan melihat sendiri bagaimana hukum dan kebijakan kerap tak menyentuh mereka yang di bawah.
Dari sanalah politiknya tumbuh, bukan dari kampus ilmu politik atau ruang seminar elite, tapi dari titik-titik perjuangan di lorong desa dan tanah penghidupan. Ia mengorganisir, berbicara, dan perlahan menjadi simpul suara.
Tahun 2024, ia terpilih sebagai anggota DPRD Boltim melalui PDI Perjuangan, partai yang dikenal berpihak pada wong cilik.
Kini, sebagai wakil rakyat, ia memegang mandat yang berat namun bermakna. Di Komisi 3, ia terlibat dalam pengawasan sektor energi, pertambangan, dan lingkungan hidup.
Di Bapemperda, ia memimpin penyusunan regulasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat desa, petani, nelayan, dan pekerja tambang tradisional.
“Perda bukan sekadar teks. Ia harus menjadi wajah dari kebutuhan nyata rakyat. Kalau tidak, hanya jadi formalitas,” ujarnya.
Kiprah Rahman Salehe mencerminkan pergeseran wajah politik lokal.
Bahwa wakil rakyat tidak harus lahir dari elite atau dinasti, tapi bisa muncul dari warga biasa yang tahu betul rasa lapar, getirnya hutang, dan harapan yang kadang hampir putus.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa politik bukan menara gading. Politik adalah dapur yang harus terus menyala agar banyak perut kenyang dan banyak suara terwakili. (*Red)












