Boltim, NetzID.com – Dugaan aktivitas pertambangan ilegal di kawasan Hutan Mintu, Desa Atoga Timur, Kecamatan Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), terus menjadi sorotan. Terbaru, sejumlah nama disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas di kawasan tersebut, termasuk pihak yang diklaim sebagai penanggung jawab hingga pemodal.
Informasi tersebut diperoleh wartawan Waktu.news dari seorang sumber yang mengaku mengetahui aktivitas di lokasi. Sumber menyebut empat nama yang menurut keterangannya berkaitan dengan kegiatan di Hutan Mintu.
Keempat nama tersebut disebut memiliki alamat berbeda. Dua di antaranya beralamat di Desa Pinasungkulan, Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), satu di Desa Mooat, Kecamatan Mooat, Boltim, dan satu lainnya di Kotamobagu.
“Penanggung jawab situ, (JK) alamat Pinasungkulan Modoinding, (RK) Desa Moator (Mooat), (AK) Pinasungkulan Modoinding, (FK) Kotamobagu,” ujar sumber tersebut.
Tak hanya menyebut empat nama, sumber juga menyampaikan satu nama lain yang disebutnya sebagai pemodal aktivitas di lokasi.
“Pemodal (LR),” katanya.
Sumber mengaku memperoleh informasi mengenai nama-nama tersebut dari aparat Pemerintah Desa Atoga Timur. Namun, ketika dikonfirmasi, informasi itu justru dibantah oleh Sekretaris Desa Atoga Timur, Novita Karauwan.
“Kalau saya lebih bagus konfirmasi dengan aparat desa, karena itu cuma informasi dari mereka, Yuri Kaur desa dengan Vita, Sekdes,” bebernya.
Novita, yang dikonfirmasi Waktu.news pada Jumat (4/9/2026), mengatakan dirinya tidak pernah memberikan informasi mengenai nama penanggung jawab maupun pemodal kepada pihak lain.
Ia juga mengaku tidak mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas di lokasi tersebut. Menurutnya, saat pemerintah desa mendatangi kawasan itu, pihak yang berada di lokasi tidak memberikan keterangan mengenai penanggung jawab kegiatan.
“Adoh kalu itu sih itu noh. Kemarin juga kan torang waktu da nae ka atas sempat ada baku ambe, karna torang mo tanya pa depe sekdes, dorang nda bilang dengan yang pekerja di situ. Dorang nda bilang depe penanggungjawab itu dia siapa,” kata Novita.
Novita kemudian menegaskan bahwa sosok Sekdes yang dimaksud dalam keterangannya adalah Sekretaris Desa Mooat.
“Sekdes Mooat,” tegas Novita.
Ia mengaku tidak mengetahui alasan Sekdes Mooat berada di lokasi ketika pemerintah desa (Atoga Timur) melakukan pengecekan.
“Kita (saya) juga juga sih nda tau. Pokoknya pas torang da pigi waktu lalu ada dia (Sekdes Mooat) sih di situ, ada dorang,” ujarnya.
Terkait nama-nama yang disebut sumber, Novita mengaku hanya mengenal Rein Kereh. Ia mengatakan Rein berada di lokasi saat dirinya bersama pihak desa datang melakukan pengecekan.
“Yang kita tau sih yang depe sekdes itu yang Om Rein pe anak, cuma itu. Waktu kemarin torang da nae ka atas kan memang ada Om Rein Kereh itu. Tapi kita nda tau juga kalu dorang deng sapa,” kata Novita.
Sementara nama (LR) yang disebut sebagai pemodal juga dibantah diketahui oleh Novita.
“Oh ta nda tau noh. Torang kasiang nda tau, butul. Kalu yang itu memang torang nda tau komang, karna kemarin sempat torang tanya dorang nda mo jawab,” ujarnya.
Di sisi lain, George Cliff Kereh saat dikonfirmasi waktu.news memberikan penjelasan mengenai keberadaannya di lokasi. Ia mengatakan aktivitas yang dilakukannya berupa pengolahan material secara manual.
“Oh waktu kita (saya) ada di situ, kita ba manual (tradisional),” kata kata George Cliff Kereh saat dikonfirmasi.
“Kita ada ba olah di situ ampas (sisa material mengandung emas). Berhubung itu ampas itu torang ada bayar, jadi pas e waktu Sangadi (Gisella Lontaan) ada sampe itu kita ada di situ ada jaga tu kita da olah itu,” kata George Cliff Kereh saat dikonfirmasi.
George membantah aktivitasnya berkaitan dengan ekskavator yang ditemukan di lokasi.
“Nda ada (tidak ada kaitan dirinya dengan aktivitas yang didatangi oleh Sangadi Gisella). Kalau kita di situ, kita ada ba manual, ada ba olah,” kata George Cliff Kereh.
Ia juga membantah melakukan penggalian.
“Nda ba lubang kita. Cuma ada bayar ampas torang kong kita olah noh,” kata George Cliff Kereh saat ditanya apakah membuat lubang galian tambang.
Terkait Rein Kereh, George mengakui sosok tersebut merupakan ayahnya dan menjelaskan alasan dirinya berada di lokasi.
“Iya,” jawab George Cliff Kereh saat ditanya apakah Rein Kereh itu merupakan ayahnya.
“A a karena itu lokasi (titik aktivitas yang di datangi Gisella) itu, kalu Pak Rein kan ta pe orang tua toh, a a, itu dia dia da beli. Jadi, otomatis dia lagi satu noh penanggung jawab di situ,” kata George Cliff Kereh.
“Jadi e kita ada di situ karna itu lokasi to pa dia toh. Dan tu ampas e ampas yang ta da olah di lokasi itu,” jelas George Cliff Kereh.
George juga menjelaskan bahwa lokasi pengolahan material yang dilakukannya berada di bagian bawah dari titik aktivitas yang didatangi Gisella (Pj Sangadi Atoga Timur). Ia menyebut sebelumnya terdapat ekskavator di lokasi tersebut.
“Nda, di bawah di situ ada eksa pertama. Cuma waktu dorang ada sampe itu eksa ada ka atas, di atas,” jelas George.
George mengatakan aktivitas yang dilakukannya berbeda dengan aktivitas yang didatangi Gisella. Ia juga membantah memiliki kaitan dengan aktivitas tersebut.
“Nda ada. Kalau kita di situ, kita ada ba manual, ada ba olah,” kata George.
Saat ditanya apakah dirinya melakukan penggalian untuk mengambil material, George membantahnya. Ia mengatakan hanya membeli ampas untuk kemudian diolah.
“Nda ba lubang kita. Cuma ada bayar ampas torang kong kita olah noh,” katanya.
George juga menjelaskan bahwa pengolahan ampas tersebut dilakukan dengan metode rendaman.
“O kita ada ba apa depe nama, ada ba rendam,” kata dia.
Terkait salah satu nama yang sebelumnya disebut berada di lokasi tersebut, George membenarkan bahwa Rein Kereh merupakan ayahnya.
“Iya,” jawab George saat ditanya.
George juga menjelaskan alasan dirinya berada di lokasi tersebut. Menurut keterangannya, titik lokasi yang didatangi Gisella merupakan lokasi yang dibeli oleh Rein.
“A a karena itu lokasi itu, kalu Pak Rein kan ta pe orang tua toh, a a, itu dia dia da beli. Jadi otomatis dia lagi satu noh penanggung jawab di situ,” kata George lagi.
George menambahkan, dirinya berada di lokasi tersebut karena menurut keterangannya lokasi itu merupakan lokasi yang dibeli Rein, sementara ia mengolah material berupa ampas di tempat tersebut.
“Jadi e kita ada di situ karna itu lokasi to pa dia (Rein) toh. Dan tu ampas e ampas yang ta da olah di lokasi itu,” pungkasnya.
Dugaan aktivitas pertambangan “ilegal” di kawasan Hutan Mintu, Desa Atoga Timur, sebelumnya mencuat setelah Penjabat Sangadi Atoga Timur, Gisella Lontaan, mengunggah kondisi lokasi tersebut melalui akun Facebook pribadinya.
Dalam unggahannya, Gisella meminta Polres Boltim turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang terjadi. Ia juga menyoroti keberadaan alat berat jenis ekskavator yang disebut beroperasi di kawasan yang menurutnya masuk dalam wilayah Desa Atoga Timur.
Sorotan terhadap aktivitas tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Boltim. Tim Pemkab Boltim turun melakukan peninjauan ke kawasan Hutan Mintu dan menemukan adanya akses jalan yang menghubungkan wilayah Kakenturan, Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), menuju kawasan Hutan Mintu.
Namun, saat tim Pemkab Boltim melakukan peninjauan, ekskavator yang sebelumnya menjadi sorotan tidak lagi ditemukan di lokasi. Keberadaan alat berat tersebut pun menjadi salah satu bagian yang terus dipertanyakan dalam rangkaian dugaan aktivitas pertambangan di kawasan Hutan Mintu. (*Red)












