Boltim, NetzID.com – Jalur Atoga di Kecamatan Modayag, Boltim, bukan hanya retak dan nyaris putus, tetapi kini juga memicu perdebatan sengit. Sebuah video pemberitaan Tribun Manado yang viral di media sosial menuding pemerintah abai, namun tanpa memberi ruang klarifikasi. Cara pemberitaan sepihak ini dinilai berpotensi menyesatkan publik sekaligus merusak citra Pemerintah Daerah.
Video yang diunggah Tribun Manado melalui akun resminya di Facebook pada Selasa (17/9/2025) itu memperlihatkan kondisi jalan Atoga yang dikeluhkan warga sejak 2024. Jalan yang hampir putus tersebut dinilai membahayakan pengendara, terutama saat musim hujan ketika jalur itu kerap diselimuti kabut tebal. Namun, isi tayangan tersebut hanya menampilkan suara keluhan masyarakat tanpa ada konfirmasi dari pihak pemerintah.

Kepala Badan Kesbangpol Boltim, Ahmad Alheid, menilai tayangan semacam ini tidak memenuhi standar jurnalistik.
“Berita ini tidak cover both sides, karena secara tendensius tidak memberi ruang konfirmasi kepada pemerintah setempat,” tegas Ahmad. Ia mengingatkan, model pemberitaan sepihak dapat merusak citra pemerintah, seolah-olah abai terhadap kepentingan publik, padahal fakta di lapangan bisa berbeda.
Ahmad berharap media tetap berpegang pada prinsip keberimbangan dalam menyajikan informasi. “Media adalah mitra penting demokrasi. Jika tidak berimbang, publik bisa tersesat pada opini yang keliru,” tambahnya.

Bupati Boltim Oskar Manoppo bahkan langsung meluruskan informasi tersebut lewat kolom komentar di unggahan Tribun Manado. Menurutnya, pemerintah tidak tinggal diam.
“Anggarannya sudah ditata di APBDP 2025 sebesar Rp 1,5 miliar dan sudah mulai kerja,” tulis Bupati Boltim Oskar Manoppo.
Pernyataan serupa juga muncul dari sejumlah warganet yang menegaskan proyek perbaikan jalan sudah berjalan sesuai arahan bupati. Bahkan, sebagian warga menyebut perbaikan sementara dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Dengan demikian, meski keluhan masyarakat soal kondisi jalan memang nyata, pemerintah Boltim menegaskan upaya perbaikan sudah berlangsung. Polemik ini menjadi pengingat pentingnya media menjaga keseimbangan berita agar informasi tidak menyesatkan publik dan merusak citra pihak tertentu. (***)












